Pelajaran Tafsir Al-Ibriz Juz 1 Hari Kamis ba’da shubuh, 29 Rabi’ul Akhir 1433 H/ 22 Maret 2012 Di Majelis Tarbiyah Wa Ta’lim Naswa – Nasy’atul Wardiyah

MUQADDIMAH

Kitab ini bernama Al-Ibrîz Lima’rifati Tafsîril Qur’ânil ‘Azîz. Billughatil Jâwiyah. Merupakan Masterpiece, karya besar dari seorang ulama besar, Al-Maghfurlah KH. Bisri Mushtofa Rembang. Semoga Allah memberikan manfaat dari keberkahan beliau dan kitab yang beliau tulis ini. Wailâ hadlratin Nabîy, Al-Fâtihah.

Surat Al- Fâtihah; Makiyah – Madaniyah; 7 ayat.

Terjemah kitab :

Surat Fâtihah iku arane surat Makiyah (temurune ana ing Makkah), ana kang ngarani Madaniyah. Ayate akehe pitu.

Fâtihah iku artine bukaan. Surat iki, kéjaba diarani surat Fâtihah uga diarani Ummul Kitâb, artine ibune kitâb (Al-Qur’ân). Tégése isine Al-Qur’ân kabeh iku wus dikumpulakén ana ing surat iki. Uga diarani As-Sab’ul Matsânî, artine ayat pitu kang den bolan baleni. Diarani mangkono jalaran sakjérone shalat surat Fâtihah iku paling sithik diwaca ping loro. Wallâhu A’lam.

Surat fâtihah itu digolongkan ke dalam surat Makiyah (Turun di Makkah), ada pula para ulama yang menggolongkannya termasuk dalam surat Madaniyah (Turun di Madinah). (Surat ini merupakan surat Makiyah – Surat yang turun sebelum Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam hijrah. Alasan yang pertama, karena selain dinamakan Al-Fâtihah surat ini juga dinamakan As-Sab’ul Matsânî, dan sebutan As-Sab’ul Matsânî ini difirmankan Allâh dalam QS. Al-Hijr/15 : 87, “Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu As-Sab’ul Matsânî dan Al-Qur’ân Al-Karim”. Telah disepakati oleh para ulama bahwa surat Al-Hijr ini turun ketika Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam masih bermukim di Makkah. Alasan yang kedua adalah, di dalam shalat kita diwajibkan membaca surat Al-Fâtihah ini. Tidak sah shalat tanpa membaca surat Al-Fâtihah. Sedangkan, shalat itu sudah mulai diwajibkan sejak Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam masih tinggal di Makkah. Namun demi meninggikan keagungan surat ini, dan memang ada ulama yang berpendapat bahwa surat Al-Fâtihah ini turun di Madinah, maka dikatakan surat ini turun dua kali, sekali di Makkah dan sekali di Madinah)[1]

Al- fâtihah sendiri memiliki arti Pembukaan. Surat ini, selain dinamakan dengan Al- fâtihah, surat ini juga dinamai Ummul Kitâb yang artinya ibunya Al-kitâ (Al-Qur’ân) atau induknya Al-Kitâb (Al-Qur’ân). Maksudnya, seluruh isi Al-Qur’ân, semuanya, telah dikumpulkan dalam surat ini. Selain itu, surat ini juga dinamai As-Sab’ul Matsânî yang artinya tujuh ayat yang diulang-ulang. Dinamakan demikian karena di dalam shalat, surat Al- fâtihah ini, paling sedikit dibaca 2 kali. Wallâhu A’lam.

 Terjemah Lafadh

Bismillahi            :    kelawan kaluhurane Allah

Arrohmani          :    kang Maha Welas

Arrohimi             :    tur kang Maha Asih

Alhamdu            :    utawi sekabehe puji (iku)

Lillahi                :    kagungane Allah Ta’ala

Robbil ‘Alamina  :    kang mengerani wong alam kabeh

Arrohmani          :    kang Maha Welas

Arrohimi              :    tur kang Maha Asih

Maliki                 :    kang ngeratuni

yaumiddini           :    ana ing dinane kiamat

Terjemah kitab :

(2) Sékabehe péngalémbana iku namung kagungane Allâh Ta’âlâ dhewe kang méngerani lan nguasani alam kabeh iki. Ora ana makhluk kang nduweni péngalem.

(3) Gusti Allâh Ta’âlâ iku pérsipatan asih marang sekabehane makhluk. Luwih-luwih marang menusa kang nyata diparingi nikmat wujud kanthi akal lan anggota badan kang sampurna lan nikmat-nikmat liyane maneh kang géde-géde lan kang lémbut-lémbut.

(4) Uga Allâh Ta’âlâ persipatan Mâliki yaumid dîn : nguasani besuk dinane kiamat. Kuasa angganjar marang wong kang pada ta’at, lan kuasa nyiksa marang wong kang pada nulayani périntah-périntahe Allâh Ta’âlâ

 

(Kita memulai membahas kitab ini karena mengagungkan Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ. Mengagungkan perintah-Nya dan Kitab-Nya, Al-Qur’ân, juga mengagungkan pembawa risalah-Nya yang akhlak beliau adalah Al-Qur’ân, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Makna dari ayat pertama juga berarti perintah Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ agar kita memulai segala sesuatu dengan membaca bismillâh yang bermakna kita melakukannya karena Allâh.)[2]

(2) Semua pujian itu hanya milik Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ saja yang memelihara dan menguasai alam semesta ini. Tidak ada makhluk yang memiliki pujian. (Maksudnya, pertama, semua pujian yang ditujukan kepada selain Allâh, pada dasarnya adalah Allâh yang lebih berhak untuk dipuji dalam hal itu. Jika kita memuji seseorang karena kerja keras dan kekayaannya, maka Allâh yang berhak dipuji karena Allâh yang menganugerahkan anggota badan, akal dan kemampuan sehingga terwujud kerja keras dan kekayaan itu.

Kedua, dari sebab yang pertama di atas, maka sifat yang layak dipuji adalah sifat yang Allâh pun memuji kepadanya dan menempatkannya dalam sifat yang mulia di sisi Allâh. Seperti beliau Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau memiliki sifat yang layak dipuji karena Allah pun memujinya. Dikatakan bahwa sifat/akhlak beliau adalah Al-Qur’ân. Kesimpulannya, sifat yang layak dipuji adalah sifat yang sejalan dengan sunnah Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Al-Qur’ân.

Ketiga, Makna “segala pujian hanya milik Allâh” adalah bahwasanya setiap perbuatan Allâh adalah terpuji. Walaupun dalam keadaan yang menurut akal manusia merupakan suatu keburukan. Seperti sakit, mati atau bencana. Dalam keadaan-keadaan itu manusia yang lemah memandang Allâh telah “melakukan suatu keburukan”. Tidak demikian! Dibalik itu Allâh memberikan kebaikan yang tidak bisa difahami/dirasakan karena keterbatasan pemahaman, perasaan dan pengetahuan (makrifat) seseorang.

Keempat, dari penjelasa yang ketiga di atas, maka para ulama memahami ayat ini sebagai perintah untuk memuji Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ dalam segala keadaan.[3]

(3) Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ Bersifat belas kasih kepada semua makhluk. Lebih-lebih kepada manusia yang nyata-nyata dianugerahi nikmat wujud (tadinya kita tidak ada menjadi ada) dengan akal dan anggota badan yang sempurna, dan nikmat-nikmat lainnya, baik yang besar-besar (sehingga kita bisa mengetahui dan merasakannya) maupun nikmat yang kecil/lembut (sehingga kita tidak mengetahui dan merasakannya padahal Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ menganugerahkannya).

(4) Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ juga bersifat Mâliki yaumid dîn yang artinya menguasai/ merajai pada Hari Kiamat. Berkuasa memberikan balasan kebaikan kepada orang-orang yang ta’at dan berkuasa menyiksa orang-orang yang menyalahi perintah-perintah Allâh Subhânahû wa Ta’âlâ.


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ân, Vol. 1, Jakarta : Lentera Hati 2002, hlm. 7

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ân, Vol. 1, Jakarta : Lentera Hati 2002, hlm. 12

 

[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ân, Vol. 1, Jakarta : Lentera Hati 2002, hlm. 28-29

One thought on “Pelajaran Tafsir Al-Ibriz Juz 1 Hari Kamis ba’da shubuh, 29 Rabi’ul Akhir 1433 H/ 22 Maret 2012 Di Majelis Tarbiyah Wa Ta’lim Naswa – Nasy’atul Wardiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s