Manaqib Al-Maghfurlah KH. Bisri Musthofa ; Episode : Kyai Bisri dan Santri yang Sedang Lelakon

“Kamu sudah berapa lama berjalan?” Tanya Kyai Bisri kepada seorang santri muda dari pondok lain yang sedang sowan kepada beliau, minta didoai agar sepat futuh (terbuka) hatinya dalam menangkap pelajaran-pelajaran dan sebagainya.

“Wah, kira-kira sudah dua bulan, Kyai. Ini sudah hampir separuh perjalanan. Saya sekarang dalam perjalanan ke Jawa Timur dan Madura” jawab santri muda itu. Si santri rupanya sedang menjalani laku tirakat dengan menziarahi makam-makam para wali, terutama wali sanga. Dan perjalanannya itu dijalaninya dengan berjalan kaki.

Kemudian terjadilah dialog di antara mereka.

“Kamu sudah izin sama Kyaimu?”

“Sudah, Kyai. Malahan saya dipesan untuk mampir, sowan sama Kyai”.

“Apa sekarang pondok sedang liburan?”

“Tidak, Kyai . . .”

“Apa Kyaimu sedang sakit ?”

“Tidak, Kyai . . .”

“Berarti sekarang kegiatan belajar mengajar di pondok tetap berlangsung ?”

“Iya, Kyai . . .”

“Sekarang kamu pulang saja. Naik bus. Jangan jalan kaki . . . Pulang ke pesantren”.

“Lho, saya sekarang kan sedang menjalankan laku saya, Kyai . . .”

“Lho, lho lho . . . Gimana tho kamu? Kamu saat ini sedang mondok. Berguru kepada seorang Kyai. Kyaimu mengizinkan kamu menjalani laku semacam ini bukan karena beliau menyetujui, itu karena Kyaimu adalah orang yang beradab, jadi sungkan sama kamu. Kamu dhalim kalau meneruskan lakumu itu. Umur dan statusmu sekarang pelajar, muta’allim. Tugasmu belajar, nderes (berguru) kepada seorang guru. Apalagi tadi katamu, lakumu itu supaya bisa ke-futuh (kebuka) hatimu. Nanti sampaikan salamku kepada Kyaimu.”

“Tapi, Kyai . . .”

“Ndak ada tapi-tapian. Orang-orang menyebut saya ini ‘Kyai’. Kyai yang alim, malah. Lah kok kamu, yang belum apa-apa, ngeyel (berkeras). Saya sudah pengalaman. Teman-teman saya yang jadi Kyai banyak. Alim-alim semua. Ke-futuh (terbuka hatinya) semua. Nggak ada itu yang pintar dan alim gara-gara laku kaya laku kamu. Yang ada ya nderes… Nanti kalau pas liburan atau pondok sedang tidak aktif, bolehlah kamu jalan-jalan ziarah ke makam wali-wali. Kalau pondok sedang aktif, ya di pondok saja. Ngaji. Nderes”. Kata Kyai Bisri tegas kepada santri muda itu.

Tak dapat lagi berkata banyak, santri itu pun kemudian pamit, kembali ke pesantrennya, menuruti perintah Kyai Bisri.

 

Sumber : Alkisah Edisi 03/ Tahun X. hlm. 144-149

 

Jika berziarah ke makam para wali saja disebut “dhalim” dan membuang waktu kalau sampai meninggalkan waktu belajar. Bagaimana jika banyak membuang waktu untuk hal yang sia-sia dan meninggalkan belajar/ thalabul ‘ilmi . . . ?

Ampun Kyai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s