Allah Sendiri yang Memenuhi Hak Setiap Hamba-Nya

Kisah dari Syaikh Muzaffer Ozak (Mudhaffar Asyq) al Jerrahi :

Suatu ketika, seorang pria meminjamkan sahabat lamanya sejumlah uang. Beberapa bulan kemudian ia membutuhkan uang itu, sehingga ia pergi ke rumah sahabatnya di kota tetangga, untuk meminta kembali uang yang ia pinjamkan.

Sesampai di sana, Istri sahabatnya mengatakan padanya bahwa suaminya sedang mengunjungi seseorang di sisi lain kita itu. Istri sahabatnya menunjukkan alamat yang harus di tuju. lalu lelaki itu pun berangkat.

Dalam perjalanan, ia melintasi sebuah prosesi pemakaman. Karena tidak sedang terburu-buru, ia memutuskan untuk mengikuti prosesi itu, dan ikut memanjatkan do’a bagi nafs (jiwa/ruh) almarhum.

Pekuburan kota itu sudah sangat tua. Jika kuburan baru akan digali, beberapa kuburan lama harus digali ulang untuk mengangkat dan memindahkan sisa tulang belulangnya. Ketika pria itu berdiri di samping lubang yang baru digali untuk jenazah almarhum, menemukan sisa kerangka yang baru saja diangkat, tepat disampingnya. Di antara kedua gigi depan tengkoraknya terselip sebutir kacang putih. Tanpa berfikir, ia mengambil butiran kacang itu dan dijentikkannya ke mulutnya sendiri.

Tepat setelah itu, datanglah seorang lelaki yang seluruh janggutnya telah memutih namun tampak awet muda. ia bertanya kepada si pria, “Kau tahu kenapa kau ada di sini sekarang?”

“Oh, tentu saja. Aku datang ke kota ini untuk mengunjungi sahabatku”.

Bukan. Kau ada di sini karena harus memakan sebutir kacang itu. Tahukah kau, bahwa kacang itu adalah hakmu. Kacang itu bukan hak orang itu, yang sudah menjadi tulang belulang sejak bertahun-tahun lalu, sehingga ia tidak akan bisa menelannya. Kacang itu adalah hakmu, dan harus sampai kepadamu.

Syaikh menutup kisahnya dengan mengatakan, “Itu berlaku untuk segala sesuatu. Allah sendirilah yang memenuhi segala hak dan kebutuhanmu. Apa pun yang diciptakan untuk menjadi hakmu, kau pasti akan menerimanya”[1]

 

Lalu Syaikh  melanjutkan kisahnya yang kedua . . . (bersambung)


[1] Syaikh Muzaffer Ozak, Cinta Bagai Anggur (terj), Bandung : Pustaka Prabajati, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s