Allah Sendiri yang Memenuhi Hak Setiap Hamba-Nya (Bag. 2)

Kisah kedua dari Syaikh Muzaffer Ozak (Mudhaffar Asyq) al Jerrahi : [2]

Pernah ada seorang kaya di Istanbul (Turki) yang berencana menguasai peredaran beras di pasaran selama satu tahun. Ketika para petani menyelesaikan panen mereka, ia menyuruh pembantunya untuk berjaga di semua gerbang kota. Di sana mereka akan membeli semua beras dari para petani dan membawanya ke gudang penyimpanan yang telah disewa oleh tuan mereka. Tidak ada sebutir beras pun dari petani yang akan sampai ke pasaran. Orang kaya itu berfikir bahwa ia akan meraih keuntungan yang luar biasa dari monopoli beras itu.

Setelah semua beras tersimpan, mandor mengajaknya berkeliling untuk memeriksa seluruh gudang. Di sana seluruh beras tersimpan, dipilah-pilah berdasarkan jenis dan kualitasnya. Di sebuah sudut dalam gudangnya yang terakhir diperiksa, tersimpan beras kualitas terbaik. Beras ini berasal dari varietas terbaik, yang padinya ditanam di tanah berkualitas paling baik, dan telah menerima cahaya matahari dan air dengan jumlah yang sangat optimal. Ketika pria itu melihat beras ini, yang butirannya berukuran dua kali beras biasa, ia memutuskan untuk membawa pulang beras itu secukupnya sebagai makanannya ketika makan malam nanti.

Ketika makan malam, dihidangkanlah kepadanya sepiring nasi yang nikmat dan kaya rasa dari beras itu, yang dimasak dengan tambahan mentega dan bumbu-bumbu. Ia suapkan sesendok besar ke dalam mulutnya. Namun, nasi itu malah tersangkut di tenggorokannya. Ia tidak bisa menelannya, tapi juga tidak bisa memuntahkannya.

Ia mencoba segala cara, namun nasi itu tetap tersangkut di sana. Ia pun memanggil dokter keluarganya. Dokter itu lalu mencoba berbagai macam teknik sodokan dan dorongan ke dalam tenggorokannya, namun ia juga gagal untuk memindahkan nasi itu dari tempatnya. Pada akhirnya, “Saya kira anda harus menjalani prosedur tracheotomy. Itu operasi yang mudah. Kita hanya harus sedikit memotong leher anda, membuat lubang tembus ke tenggorokan dan langsung mengambil nasinya”.

Ia bergidik mendengar gagasan bahwa ia harus membayar orang untuk memotong lehernya. Karena itu, ia mendatangi seorang dokter lainnya, seorang spesialis THT, untuk berkonsultasi. Sayangnya sang dokter spesialis ini pada akhirnya juga merekomendasikan prosedur yang sama.

Pada akhirnya, ia teringat kepada seorang syaikh sufi yang telah bertahun-tahun menjadi tempat meminta nasihat bagi seluruh keluarganya. Ia juga memiliki reputasi sebagai seorang yang bisa menyembuhkan. Maka pergilah ia menemui syaikh ini,  yang mengatakan padanya, “Ya, aku tahu cara memperbaiki keadaanmu ini, tapi kau harus melaksanakan dengan tepat apa yang akan aku katakan padamu. Ambilah penerbangan ke San Fransisco besok pagi. Di sana, naiklah taksi untuk mengantarmu ke hotel st. Francis. Masuklah ke kamar 301, dan segeralah menghadap ke arah kiri. Saat itu kau akan disembukan”.

Yakin dengan reputasi Sang Syaikh, ditambah dengan kesediaannya melakukan apa pun selain menyuruh orang untuk menggorok lehernya, orang ini pun membeli tiket dan terbang ke San Fransisco.

Ia, tentu saja, merasa teramat sangat tidak nyaman di sepanjang perjalanannya, karena ada segumpal nasi yang menyumpal di tenggorokannya. Untuk bernafas sangat sulit, dan dari waktu ke waktu ia hanya bisa menelan sedikit sekali air.

Setibanya di San Fransisco ia langsung menuju hotel St. Francis, dan naik ke kamar 301. Sejauh ini lancar. Setidaknya, hotel dan kamar yang dikatakan oleh Sang Syaikh memang benar-benar ada.

Ia mengetuk pintu kamar, namun karena pintunya tidak tertutup dengan baik, pintunya menjadi sedikit terbuka karena ketukan tangannya. Pelan-pelan ia membuka pintu kamar, dan mengintip ke dalam dan masuk. Di sebelah kirinya ia mendapatkan seorang lelaki sedang tertidur di kasur, mendengkur perlahan. Tiba-tiba saja, saudagar beras ini bersin. Karena bersinnya itu, segumpal nasi yang menyumpal tenggorokannya seketika terlempar kel uar, dan jatuh ke mulut pria yang sedang tertidur mendengkur itu. Karena kaget, orang itu mendadak terbangun dan tanpa sengaja langsung menelan segumpal besar nasi yang tiba-tiba menyerbu ke dalam mulutnya tadi.

Karena kaget, tanpa disadarinya ia berseru dalam bahasanya, yang ternyata adalah bahasa Turki, “Ada apa? Anda siapa?” Si Saudagar beras, yang terhenyak karena menemukan kawan sebangsa (Turki) di San Fransisco, akhirnya menceritakan seluruh kisahnya. Keduanya terkagum-kagum dengan apa yang telah terjadi. Pria dalam kamar hotel itu pun ternyata adalah warga Istanbul, bahkan tinggal di daerah yang sama dengan rumah si saudagar.

Sepulangnya kembali ke negaranya, si saudagar langsung menemui Sang Syaikh. Syaikh menjelaskan bahwa beras yang akan ia makan bukanlah haknya. Beras itu adalah hak pria Turki yang telah menelannya di San Fransisco. Karena bukan haknya, maka ia tidak akan bisa menelannya. Maka satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalahnya adalah dengan mengantarkan beras itu kepada orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menerimanya.

Sang Syaikh menambahkan – dengan penekanan, “Ingat. Apa yang merupakan hakmu pasti akan sampai kepadamu. Dan apa pun yang menjadi hak orang lain, pasti akan sampai juga kepada mereka.”

Saudagar itu pun pulang ke rumah. Tidak henti-hentinya ia selalu memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi pada dirinya, dan merenungkan kata-kata Syaikh. Dan keesokan paginya, ia membuka seluruh gudang berasnya dan mendistribusikan semua berasnya kepada seluruh kaum miskin di Istanbul.

Syaikh Muzaffer menambahkan, “Itu benar. Apa pun yang telah ditakdirkan untukmu, baik itu berkah material maupun spiritual, pasti akan sampai kepadamu. Biarpun ia harus menempuh perjalanan sejauh jarak Istanbul ke San Fransisco, atau bahkan harus berputar-putar terlebih dahulu, tetap saja, ia pasti akan sampai kepadamu.

[2] Syaikh Muzaffer Ozak, Cinta Bagai Anggur (terj), Bandung : Pustaka Prabajati, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s