Sufi dan Sultan

Kisah ketiga dari Syaikh Muzaffer Ozak (Mudhaffar Asyq) al Jerrahi :[1]

Pernah suatu ketika, seorang Sultan sedang menunggang kuda di jalan-jalan utama kota Istanbul, dikelilingi para pengawal dan tentara. Seluruh penduduk kota berdatangan untuk melihat Sang sultan. Mereka semua membungkuk ketika Sang Sultan lewat, kecuali seorang darwis/ Sufi[2] yang berpakaian sederhana.

Sang Sultan menghentikan arak-arakannya dan memerintahkan untuk membawa darwis itu kepadanya. Ia menuntut penjelasan mengapa Sang Darwis tidak membungkuk ketika dirinya lewat.

Sang Darwis menjawab, “Biarlah semua orang lain yang membungkuk kepadamu. Mereka semua menginginkan apa yang ada padamu – harta, kekuasaan dan kedudukan. Alhamdulillah, hal-hal itu sudah tidak lagi ada artinya bagiku. Lagi pula bagaimana mungkin aku yang membungkuk kepadamu, sementara aku memiliki dua orang budak. Dan dua orang budak itu sekarang masih menjadi majikanmu?”

Penduduk yang menyaksikan ternganga, dan wajah Sang Sultan merah padam seketika karena murka. “Apa maksudmu?”.

“Kedua budakku yang menjadi majikanmu adalah amarah dan keserakahan”, ujar sang Darwis tenang, sepenuhnya menatap wajah sultan.

Menyadari kebenaran dalam ucapanny yang didengarnya itu, maka Sang Sultan pun membungkuk kepada Sang Darwis.


[1] Syaikh Muzaffer Ozak, Cinta Bagai Anggur (terj), Bandung : Pustaka Prabajati, 2008, hlm. 9

[2] Sufi adalah orang yang melakukan perjalanan spiritual dalam bimbingan seorang Guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s