HARGAILAH YANG BERBEDA PANDANGAN

Tukang Gas berkacamata itu seperti biasanya lewat dan menawarkan dagangannya. Tapi tidak seperti biasanya, dia ambil gas yang kosong, ganti gas yang baru, saya bayar lalu pamit pergi dengan sopan santun alakadarnya. Kali ini dia menyempatkan duduk dan mengomentari “Naslak”, sebuah nama yang saya berikan untuk Burung Jalak pemberian ayah untuk saya.

“Setiap orang itu tidak terhindar dari dosa, tidak juga ustadz dan Kyai” kata tukang gas.

Saya sejenak tidak bisa memahami sampai dia meneruskan, “Misalnya memelihara burung. Kalau menurut saya itu dosa. Makanya saya tidak memelihara apa pun. Kalau ada kucing, ya saya kasih makan terus saya biarkan pergi”.

Saya jadi paham sekarang. Sejenak sesuatu merambat ke wajah saya, lalu mengalir ke otak, dan detak jantung saya merayap naik. Karena kalimat Bapap Gas ini bukan pertanyaan atau klarifikasi tapi sudah justifikasi. Apalagi dia menyebut kata-kata “Kyai”. Bagi saya menyorot Kyai itu tindakan yang “berani”.

Saya tidak mungkin menggunakan dalil dari kitab tentang bolehnya memelihara burung dalam sangkar. Saya juga tidak mungkin menyebutkan ulama, kyai dan Habib yang memiliki koleksi burung yang dikandang. Pandangan tukang gas ini sudah tegas, nanti malah Kyai saya kena juga. Maka saya mengiyakan saja. Memang benar, manusia itu tidak luput dari salah dan dosa, apalagi model saya.

Setelah dia bicara banyak tentang hukum dan pandangan memelihara binatang yang menggunakan dalil “menurut saya”, saya kemudian berkata, “Sebenarnya burung jalak ini sudah lepas dua kali pak. Pertama, waktu santri kasih sarapan, lupa nutup pintunya. Dia pergi, tapi sore balik lagi ke kandangnya. Kedua, belum ada seminggu ini kandangnya jebol (maklum kandang warisan). Tapi malamnya dia pulang lagi masuk rumah. Maka saya anggap dia suka tinggal dengan saya dan saya berinisiatif beli kandang yang lebih besar dan lebih bagus.

Hampir saja saya nyerocos, bahwa saya memberi burung jalak ini makan sebelum saya makan seperti maqolah dalam kitab akhlak, “barang siapa memelihara burung yang di kandang, maka hendaknya diberi makan, sebelum pemiliknya makan”. Saya juga beri dia vitamin bla . . . bla . . .

Untunglah sebelum saya bicara tidak karuan Pak tukang gas itu pamit. Mudah-mudahan beliau memaklumi kekurangan saya, sehingga tidak berhenti jadi agen gas buat warung saya, sebagaimana saya menghargai pandangannya yang berbeda dan berharap dia istiqamah mengantarkan gas buat saya. Ada hikmahnya Naslak saya ini lepas dua kali. Alhamdulillaah . . .

Naswa, Kertanegara, Selasa, 27 Oketober 2015 M / 12 Muharram 1437 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s