Pengajian Kitab ‘Ushfuriyah Pertemuan Ke-2

 

2

Hadits Pertama
Dari Sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallaahu Ta’alaa ‘Anhuma (semoga Allah meridloi keduanya) berkata : Berkata Rasulullah Shallaallaahu ‘Alaihi Wa Sallam :
أَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ. إِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْإَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang yang berkasih sayang, akan selalu disayangi oleh Allah yang Maha Kasih Sayang. Sayangilah oleh kalian yang ada di bumi, maka Yang ada di langit akan selalu menyayangi kalian”.
Terdapat sebuah hikayat tentang Sayidina Umar Radhiyallahu ‘Anhu yang sesuai dengan hadits ini. Suatu hari beliau berjalan menyusuri jalanan Madinah. Di suatu tempat beliau melihat seorang anak kecil. Di tangan anak kecil itu ada seekor burung (‘ushfuur). Tampak anak kecil itu sedang mempermainkannya. (mungkin seperti burung yang kakinya diikat. Kemudian dilepaskan untuk terbang, baru beberapa langkah burung berjalan ditarik lagi. Pen). Maka Sayidina ‘Umar merasa kasihan terhadap burung itu dan membelinya dari si anak kemudian membebaskannya (membiarkannya terbang).
Setelah Sayidina ‘Umar wafat, banyak orang yang bermimpi bertemu dengan beliau. Orang-orang bertanya tentang keadaan beliau (di alam barzakh).
Orang-orang berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?”.
Sayidina ‘Umar menjawab, “Allah mengampuni aku dan membebaskan aku”.
Orang-orang bertanya, “Dengan sebab apa? Apakah karena kedermawananmu? Atau karena keadilanmu? Atau karena sifat zuhudmu?
Sayidina ‘Umar menjawab : “Ketika kalian meletakkan aku di kubur, kemudian menutupi ku dengan tanah dan meninggalkan aku seorang diri, datanglah dua orang malaikat yang sangat berwibawa. Akalku seperti terbang, dan gemetar seluruh persendianku karena kewibawaan keduanya. Mereka merengkuh dan mendudukan aku. Kemudian mereka hendak menanyai diriku.
Maka terdengarlah hatif (suara tanpa rupa) yang berkata, “Tinggalkanlah oleh kalian berdua hamba-Ku itu dan janganlah kalian membuat dirinya takut. Sesungguhnya Aku menyayanginya dan membebaskan dia. Ketika di dunia dia kasihan kepada seekor burung, maka di akhirat Aku pun kasihan kepadanya.
Hikmah yang dapat kita petik :
1. Sayidina ‘Umar adalah orang yang tegas dan terkesan “galak”. Tapi terhadap anak kecil (yang belum mengerti hukumnya mempermainkan burung) beliau tidak memarahi. Beliau membujuk untuk membelinya dan memberi contoh melepaskannya. Inilah pendidikan para sahabat Rasul.
2. Menyayangi makhluk Allah seperti burung, menjadi sebab Allah menyayangi kita. Bagaimana jika yang kita sayangi adalah sesama manusia? Maka tentunya rahmat Allah lebih besar lagi.
3. Sayidina Umar (dalam kisah ini) selamat bukan karena “amal” nya. Beliau selamat karena Allah “kasihan” kepadanya. Padahal beliau adalah salah satu sahabat utama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam yang amal dan perjuangannya luar biasa. Apalagi kita yang amalnya sedikit, kita tidak boleh mengandalkan kita “sudah beramal ini dan itu”, yang lebih didahulukan adalah “semoga Allah kasihan kepada kita”.
4. Sangat mungkin untuk bermimpi dengan para shahabat (dan orang-orang shaleh), sehingga kita mendapat pelajaran yang berharga, meskipun mereka telah wafat. Ini termasuk mimpi yang baik.
Dan banyak lagi hikmah yang lainnya. Wallahu A’lam.

Kertanegara, Naswa
Minggu 01 November 2015 M / 19 Muharram 1437 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s